Ide/Gagasan Dalam Menulis

  • Dari mana datangnya ide?
  • Datang sendiri secara tak terduga
  • Datang setelah kita melakukan sesuatu (baca buku, nonton film, jalan-jalan, mengalami kejadian yang luar biasa, dst)
  • Dicari
  • Berdasarkan referensi tertentu
  • Berdasarkan ucapan atau pendapat orang lain
  • Dan masih banyak lagi.
  • Mencari & mengembangkan ide
  • Pikirkan sebuah objek (sebuah foto di kamar)
  • Susun pertanyaan:
  • Kapan foto itu dibuat?
  • Siapa yang memotret?
  • Di mana lokasinya?
  • Kejadian apa yang berlangsung ketika itu?
  • Kenapa sampai ada foto itu? Adakah maksud tertentu?
  • Dalam rangka apa?
  • Bagaimana proses pembuatan foto itu?
  • Bagaimana suasananya?
  • Kita sudah mendapat sebuah ide yang lengkap!
  • Pikirkan sebuah kejadian (seorang preman berjalan di tengah pasar sambil membawa stik golf)
  • Susun pertanyaan:
  • kenapa ada preman kampung menenteng stik golf?
  • dari mana dia mendapatkan stik golf itu?
  • kenapa dia membawa stik golf itu ke sebuah pasar?
  • apakah stik golf itu milik pribadinya, atau hadiah dari seseorang, atau dicuri dari seseorang?
  • Bagaimana kejadiannya ketika dia mendapatkan stik golf itu? Apa yang terjadi ketika itu?
  • Dan seterusnya.
  • Kita sudah mendapat sebuah ide yang lengkap!
  • Pelajari sebuah budaya masyarakat, fenomena kehidupan, dst (misalnya: penduduk di perbatasan kalimantan yang lebih menyukai ringgit malaysia ketimbang rupiah. Mereka juga lebih suka berdagang di malaysia ketimbang di Indonesia.
  • Susun sebuah kisah tentang pemuda yang melawan arus. Ia ingin lebih cinta pada rupiah ketimbang ringgit. Ia juga bertahan untuk berdagang di Indonesia, walau tidak begitu laku.
  • Kisah seperti ini pernah dimuat di Annida edisi No. 21/XIV/16 Agustus 2005. Judul: Cinta di Perbatasan. Penulis: Herti Windya Puspasari.
  • Simak pendapat seorang tokoh. Misalnya: “Tolak RUU APP karena bertentangan dengan hak asasi perempuan!”
  • Coba menganalisis pendapat ini. Bandingkan dengan pendapat kita.
  • Jika misalnya kita tak setuju, coba inventarisir alasan-alasan kita, disertai referensi yang kuat.
  • Maka jadilah sebuah tulisan OPINI!
  • Pikirkan sebuah kondisi masyarakat. Misalnya: Masih banyak orang yang belum tahu bagaimana cara mengirim email.
  • Maka, buatlah sebuah penjelasan lengkap tentang cara mengirim email.
  • Maka jadilah sebuah tulisan “how to essay” atau technical writing.
  • Ingatlah sebuah pengalaman hidup kita yang berkesan. Misalnya: saya pernah kecopetan.
  • Ceritakan ulang pengalaman ini dengan gaya bahasa dan teknik bercerita yang baik. Ungkapkan bagaimana perasaan kita ketika mengalami kejadian tersebut.
  • Maka jadilah sebuah tulisan personal essay dengan judul “ketika aku kehilangan sesuatu”.
  • Anda punya pendapat, “Jalan kaki ke kantor itu lebih menguntungkan dari pada naik mobil”.
  • Kemukakan ide ini dengan bahasa yang baik, disertai alasan-alasan yang kuat dan logis. Sampaikan dengan gaya bahasa yang membujuk dan provokatif, tapi tetap dalam batas kewajaran.
  • Maka Jadilah sebuah artikel PERSUASIF dengan judul, “Ayo jangan kaki ke kantor!”
  • Kehabisan ide? Coba gali ide dari dongeng/cerita rakyat (cerita anonim, tak jelas siapa pemiliknya. Bebas dari hak cipta, jadi boleh kita utak-atik semau kita.)
  • Tulis ulang dongeng/cerita rakyat tersebut dengan versi apa saja, terserah kita. Ceritanya diubah atau diobrak-abrik pun tak masalah. Yang penting, masih ada benang merah dengan cerita aslinya.
  • Ide ada tapi bingung ketika mau menulis
  • Bebaskan pikiran, tulislah apa yang ada di pikiran Anda apa adanya. Jangan peduli pada aturan apapun (EYD, struktur tulisan, dst)
  • Jangan dibebani oleh pikiran-pikiran seperti:
  • (1) tulisan ini harus bagus banget,
  • (2) tulisan ini harus menarik bagi semua orang, (3) dst
  • Jangan dibayang-bayangi oleh penulis idola Anda (“Pokoknya tulisan saya harus sama dengan tulisan Gunawan Muhammad!”)
  • Kerangka karangan bukanlah hal wajib. Gunakan jika ia membantu kelancaran ide. Jika justru mengganggu kelancaran ide, ya jangan pakai kerangka karangan.•         Menulislah untuk diri sendiri, untuk menyenangkan diri sendiri. Tulislah hal-hal yang menarik dan bermanfaat bagi diri sendiri.
  • Setelah lancar menulis, barulah kita berpikir tentang cara merevisi tulisan agar lebih bagus, agar menarik bagi orang lain, dst.
  • Ide sudah ditulis, tapi mandeg di tengah jalan
  • Istirahat dulu, kerjakan hal-hal lain
  • Rangsang ide dengan kegiatan yang bermanfaat (baca buku, nonton, diskusi dengan teman, dst)
  • Cobalah mengerjakan tulisan lain. Setelah fresh, kerjakan lagi tulisan sebelumnya. Tapi jangan meninggalkan sebuah tulisan terlalu lama!
  • Ide saya sudah ditulis oleh orang lain
  • Percayalah! Setiap manusia itu unik. Jadi walau idenya sama, belum tentu hasil tulisannya juga sama (jika ditulis oleh orang yang berbeda).
  • Kembangkan ide yang sama dengan teknik baru, sudut pandang yang berbeda, gaya bahasa yang unik, dst.
  • Tak ada ide yang benar-benar orisinal! Apapun ide yang muncul di kepala kita, pasti ada unsur pengaruh dari ide-ide yang sudah ada
  • Ide saya sudah klise
  • Menulis cerita berdasarkan pengalaman pribadi atau kisah nyata  untuk cerita Fiks
  • Carilah bagian dari kisah nyata itu yang kita anggap menarik. Bagian yang kurang menarik, atau tidak menarik sama sekali, silahkan dibuang saja.
  • Galilah bagian yang menarik tersebut, lalu kembangkan ceritanya sesuai
  • keinginan kita
  • Kalau perlu, carilah sudut pandang yang unik, agar ceritanya menjadi lebih bagus.
  • Setelah itu, tulislah cerita Anda. Olahlah “bahan baku” tersebut menjadi cerita yang utuh
  • Setelah jadi, ia sudah menjadi cerita fiksi, bukan lagi pengalaman pribadi/kisah nyata.
  • Sumber Ide
  • Menyentuh (touch). Contoh: di dalam lingkungan sekolah, kita berpapasan dengan seorang pesuruh. Kita pun menyapa dan berjabat-tangan dengan pesuruh yang sudah mengabdi sekian lama. Genggaman tangannya yang kasar terasa lemah.–        Maka kita bisa membuat tulisan yang berjudul:  “Mereka yang Berjasa Tanpa Terasa

About faizahsunaryo

I am a teacher, I teach in Vocational high school in Malang City
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s